Dijalanmelawan's Blog

seseorang yang mencoba memaknai arti kehidupan melalui proses pembelajaran

Posted by dijalanmelawan pada Februari 3, 2010

Sebuah Pendidikan

Oleh:

Sony Sujartono

Banyak ahli mencoba untuk merumuskan arti sebuah pendidikan. Ki Hajar dewantoro dengan konsep pendidikan Trihayu.  Daoed Joesoef yang menjelaskan arti pentingnya pendidikan, dimana beliu menempatkan pendidikan sebagai sebuah alat yang menentukan untuk mencapai kemajuan dalam segala bidang kehidupan, sampai Paulo freire dengan konsep pendidikan pembebasan.

Telah menjadi rahasia umum bahwa kemajuan suatu bangsa hanya bisa dipengaruhi oleh faktor pendidikan. Pendidikan sabagai satu-satunya sarana untuk memanusiakan manusia, membedakan manusia dengan mahkluk lainnya, dapat mengangkat harkat dan martabat, dan itulah fungsi dan tujuan pendidikan.

Hakekat pendidikan adalah sebuah pembebasan. Pembebasan dari kebodohan, pembebasan dari keterbelengguan, pembebasan dari kemiskinan dan membebaskan banyak hal yang selama ini mengurung kita dalam kegelapan.

‘Aidh al-Qarni mengatakan bahwa kebodohan merupakan tanda kematian jiwa, terbunuhnya kehidupan dan membusuknya umur. Kebodohan itu sangat membosankan dan menyedihkan. Pasalnya, ia tidak pernah memunculkan hal baru yang lebih menarik dan segar, yang kemarin seperti hari ini, dan yang hari ini pun akan sama dengan yang akan terjadi esok hari. kebahagian, kedamaian, dan ketentraman hati senantiasa berawal dari ilmu pengetahuan. Ilmu mampu enembus yang samar, menemukan sesuatu yang hilang, dan menyikap yang tersembunyi.

Lantas apakah pendidikan kita telah mengarah kesana?. Selama ini, pendidikan selalu diidentikkan dengan kurikulum, materi pelajaran, distribusi informasi, inovasi pembelajaran, metode pembelajaran, sertifikasi guru, kompetensi siswa, mahalnya biaya sekolah, biaya buku, biaya seragam, rendahnya penghargaan terhadap guru, dan masih banyak lagi hal-hal yang ramai diperdebatkan sampai melupakan hakekat pendidikan itu sendiri.

Tidaklah mengherankan apabila Paulo freire menyebutkan bahwa pendidikan yang pernah ada dan mapan ini dapat diandaikan sebagai sebuah “bank”. Di mana pelajar, siswa , bahkan mahasiswa diberi ilmu pengetauan agar ia kelak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda. Jadi, anak didik adalah objek investasi dan sumber deposito yang potensional. Depositor atau investornya adalah para guru yang mewakili lembaga-lembaga yang mapan dan berkuasa, sementara depositonya adalah berupa ilmu pengetahuan. Anak didik lantas diperlakukan sebagai ‘gelas kosong’ yang akan diisi, sebagai sarana tabungan atau penanaman ‘modal ilmu pengetahuan’ yang akan dipetik kelak. Guru adalah sebuah posisi katif dan anak didik berada dalam posisi pasif. Anak didik hanya diberikan ilmu pengetahuan yang sangat berbeda apabila ilmu itu dibenturkan dengan realitas. Dengan demikian pendidikan akhirnya bersifat negative, dimana guru memberikan informasi yang harus ditelan oleh murid, yang wajib diingat dan dihapalkan. Sungguh sebuah keadaan yang sangat mengerikan.

Solusi?, dengan mengubah paradigma pemikiran kita pendidikan. Selama ini pendidikan hanya dimaknai sebagai kegiatan yang hanya dapat dilakukan didalam ruangan dengan luas tidak lebih dari 5×10 meter. Sebuah ruangan yang sungguh sempit untuk melihat dinamika perkembangan masyarakat.

Ubah paradigma tersebut dengan pengertian bahwa pendidikan itu tidak terikat ruang dan waktu. Bahwa pendidikan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja dan sampai kapan pun harus tetap kita lakukan. Semuanya memperoleh hak untuk menikmati kenikmatan yang kita namai sebagai pendidikan.

Tampaknya kita harus kembali merujuk konsep pendidikan “sekolah kehidupan” ala   Poile Sengupta. Sekolah kehidupan adalah sebuah pembelajaran yang mengikuti diamika kehidupan yang terus berjalan. Di sinilah belajar yang tiada henti enjadi teramat penting. Karena dengan terus mengasah diri, menggali informasi dan selalu beradaptasi kita akan mudah memilih dan menentukan arah kehidupan kita. Lembaga yang bernama sekolah hanyalah bagian terkecil dari sekolah kehidupan itu, tetapi ironisnya telah menyita dan merampas hidup anak seolah-olah hidup mereka hanya untuk sekolah.

Dan semoga apa yang dikatakan Robert T. Kiyosaki bahwa, If you want to be rich and happy, Don’t go to school! Tidak sampai terjadi dalam dunia pendidikan, apabila terjadi habis sudah wibawa pendidikan dalam sejarah peradaban umat manusia.

Posted in PENDIDIKAN | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Posted by dijalanmelawan pada Februari 3, 2010

GURU

“PAHLAWAN BANYAK TANDA JASA”

Oleh:

Sony Sujartono

Ada sebuah pepatah yang tidak diketahui asal-muasalnya. Sebuah pepatah yang mencoba menggambarkan keagungan kepribadian seorang guru. Pepatah yang “mungkin” diciptakan untuk dapat membahagiakan hati dan perasaan insan-insan yang berkecimpung didunia pendidikan. Atau “mungkin” pepatah itu adalah sebuah ungkapan penghargaan tertinggi atas segala pengabdiannya. Pepatah itu adalah “guru, pahlawan tanpa tanda jasa”.

Pepatah tersebut tentunya akan sangat pas apabila diletakan dalam konteks “bahwa tidak ada suatu bentuk penghargaan yang benar-benar  tepat untuk membalas jasa yang telah diberikan oleh guru”. Bagaimana tidak, seorang guru bersedia mengabdikan segala hidupnya guna sebuah pencerdasan. Pengabdian yang penuh iklhas diberikan, tanpa mengharapkan pamrih. Dengan adanya pencerdasan itulah manusia akan menjadi mahkluk utuh dan unggul dibanding mahkluk lain ciptaan Tuhan.

Dengan diharuskanya memiliki 4 kompetensi (pedagogik, pribadi, sosial, professional) Guru menjadi sosok ideal yang mempunyai kualitas lebih tinggi dibanding orang pada umumnya. Sebagai sosok serba bisa seorang guru secara otomatis mendapat kewibawaannya. Dengan itu semua, tidak mengherankan apabila predikat “guru” ini tidak hanya melekat dalam lingkup sekolahan, tetapi meluas hingga lingkup bermasyarakat. Hal ini dapat dibuktikan bila seorang guru akan memiliki status sosial yang lebih tinggi dimasyarakat dengan didudukan sebagai tokoh masyarakat.

Profesi guru ini sangatlah unik, memiliki perbedaan dengan profesi lainnya. Paling tidak saya memberikan tiga komponen pembeda: pertama, profesi ini menuntut adanya totalitas. Totalitas dalam memberikan pengabdian dan pengorbanan. Kedua, profesi ini adalah profesi kemanusiaan. Hal ini karena profesi ini bertautan erat dengan esensi dari manusia itu sendiri. Ketiga, profesi ini merupakan panggilan jiwa. Sehingga mereka yang terpanggil untuk menjadi seorang guru harus sejak dini mempersiapkan kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapai kedepannya, terutama menyangkut kesejahteraan dan kemapanan.

Disisi lain, guru tidak membutuhkan simbol-simbol kepangkatan yang melekat diseragamnya. Guru tidak menyandang jabatan seperti layaknya jabatan kemiliteran. Tidak ada seragam/simbol pembeda untuk guru.

Untuk saat ini, pepatah “guru, pahlawan tanpa tanda jasa” telah disalahartikan. Pepatah itu sangat tepat untuk menggambarkan bagaimana negara ini telah gagal dalam memberikan apresiasi dan penghargaan terhadap sang guru. Dikarenakan ketidakmampuan dan ketidakmauan negara ini menghargai jasa guru, maka pepatah “guru, pahlawan tanpa tanda jasa” sering dijadikan sejata pamungkas untuk menjawab segala pertanyaan yang menyangkut kewajiban negara dalam hal kesejahteraan guru.

Ya, pemerintah negara ini telah gagal menafsirkan pepatah itu. Hal ini dapat kita lihat dari fenomena maraknya guru, terutama guru honorer dan GTT (Guru Tidak Tetap) yang harus melakukan demonstrasi sebagai upaya mengingatkan pemerintah bahwa telah terjadi ketidakadilan sehingga menyebabkan kondisi guru honorer dan GTT begitu amat menyedihkan.

Walaupun kondisi telah sedemikian parah yang diakibatnya gagalnya pemerintah dalam melaksanakan kewajibannya tidak lantas menghentikan seorang guru untuk selalu memberikan pemahaman-pemahaman keilmuan kepada peserta didiknya.

Yang perlu diingat disini adalah sosok guru telah ada sebelum negara ini terbentuk. Dan bahkan karena peran guru yang telah mencerdaskan dan menginspirasi para founding father, untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan dan yang akhirnya melahirkan Negara Indonesia tercinta. Jadi, apabila Negara ini mencoba melupakan peranan guru, dan mencoba menghindar dari kewajibanya terhadap guru, maka eksistensi Negara ini akan terancam.

Dengan demikian, bahwa tidak ada sebuah penghargaan yang pas dan tepat untuk membalas dan menghargai jasa guru. Teruslah mengabdi wahai sang guru. Akan kusematkan penghargaan untukmu dalam hati sanubariku. Guru, Pahlawan BANYAK Tanda Jasa.

Posted in PENDIDIKAN | Dengan kaitkata: , | Leave a Comment »

Posted by dijalanmelawan pada Februari 3, 2010

GURUKU “IDOLAKU”
Oleh:
Sony Sujartono

“Siapakah tokoh/pahlawan idola kalian?. Jawabanya pastilah seputar para pemain bola yang bermain di klub-klub Eropa seperti Cristiano Ronaldo, Kaka, Ronaldinho, dan masih banyak lagi pemain bola lainnya yang sangat pawai mengolah kulit bola atau mungkin jawabanya adalah gurp-grup band seperti Piterpan, ST 12, Kangen Band atau penyanyi solo seperti Afgan sampai Gita Gutawa. Kesemuanya itu tampaknya telah merebut hati dan menginspirasi adik-adik kita.
Fenomena tersebut adalah hal yang wajar, sah dan tidak ada yang salah akan hal tersebut. Wajar saja apabila mereka mengidolakan Cristiano Ronaldo dan ST 12, karena tokoh-tokoh tersebut telah membuktikan dirinya kepada dunia lewat prestasi-prestasi yang ditorehkannya. Dengan prestasi-prestasi yang didapatkan yang kemudian melahirkan sebuah ketenaran. Dua faktor inilah yang membuat anak-anak sekarang senang mentokohkan sosok-sosok ini. Dengan mengidolakannya, maka mereka berharap dapat mengikuti rekam jejak dan bahkan akan dapat menyaingi prestasi yang didapat oleh tokoh idola mereka.
Itulah gambaran singkat tentang tokoh-tokoh idola anak sekarang. Mereka mengidolakan dan mentokohkan sosok-sosok tersebut walaupun belum tentu anak-anak tersebut pernah berjumpa atau bertatap muka atau melihat secara langsung bagaimana Cristiano Ronaldo menggiring bola, melewati pemain-pemain musuh untuk kemudian mencetak gol ke gawang lawan, mereka mengidolakan dan mentokohkan grup band seperti ST 12 atau Kangen Band walaupun belum tentu mereka pernah mendengar atau menonton langsung konser live band tersebut. Dengan demikian sosok idola tersebut telah menghipnotis anak-anak sekarang dengan berbagai kemasan-kemasan praktis yang memperlihatkan keunggulan, kehebatan, dan kesempurnaan. Sekali lagi saya tekankan “bahwa hal tersebut sangatlah wajar dam tidak ada yang salah dengan hal tersebut”.
Akan tetapi hal tersebut menyisakan rentettan pertanyaan “mengapa anak-anak sekarang lebih mengidolakan sosok-sosok imaginasi (karena mereka belum tentu pernah menjalin komunikasi dan interaksi secara langsung) tersebut ketimbang sosok atau insan-insan pribadi yang setiap hari anak-anak kita dapat menjalin komunikasi dan melakukan interaksi secara langsung? Dimanakah keberadaan sosok atau insan tersebut? Mengapa sosok atau insane tersebut tidak bisa menginspirasi anak-anak sekarang?. Sebuah rentetan pertanyaan yang sangat sukar untuk kita jawab.
Sebenarnya kita semua mempunyai potensi untuk dapat menjadi tokoh panutan, tokoh idola atau bahkan menjadi pahlawan bagi orang lain. Lingkungan masyarakat (melalui tokoh-tokoh masyarakat), lingkungan keluarga (anggota keluarga), dan lingkungan sekolah (guru) sebenarnya menyediakan orang-orang yang mempunyai berbagai keunggulan dan kehebatan yang mempunyai kapasitas besar untuk menjadi tokoh idola.
Taruhlah sosok guru dalam lingkungan sekolah. Mulai sejak kita berada di bangku taman kanak-kanak hingga bangku perkuliahan, sejak menuntut ilmu disekolah dasar hingga perguruan tinggi kita selalu berinteraksi dengan sosok yang satu ini, yaitu guru. Sang guru inilah yang setia membimbing, menemani dan mengajari kita. Membimbing dikala kita kebingungan, menemani disaat kita kesepian dan mengajarkan sesuatu yang sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita.
Sang guru inilah yang telah membukakan cakrawala dunia lewat sebuah pembelajaran. Sebuah pembelajaran yang tidak terikat oleh ruang dan waktu. Kaedah-kaedah keilmuan, membangun skema konsepsi berfikir dan menanamkan norma-norma kehidupan yang kesemuanya itu disampaikan dengan penuh ihklas, diajarkan dengan penuh kasih sayang, dan sang guru tidak pernah meminta imbalan. Yang guru inginkan adalah bagaimana anak didiknya dapat menjadi pribadi-pribadi yang berkualitas dan dapat bermanfaat dalam masyarakat.
Itulah sosok sang guru. Sosok yang sangat hebat. Kepribadiaan, kecerdasan, dan kepandaiannya sudah tidak diragukan lagi. Sosok yang mulia. Tulus dalam memberi dan tak mengharapkan kembali. Sebuah sosok yang mampu merubah dunia ini kearah yang lebih baik. semua orang sangat mengharapkan kehadirannya. Kehadirannya mampu mencerahkan suasana, dan sampai kapan pun kita tetap akan membutuhkan Sang guru.
Demikianlah sedikti gambaran tentang guru. Dengan sedikit menggunakan kepekaan perasaan dan kejelian dalam melihat kondisi sekitar, kita tidak perlu jauh-jauh mencari idola. Idola dan pahlawan kita ada di depan kita, ada dihadapan kita dan selalu berinteraksi dengan kita. Tokoh idola yang tidak hanya dapat kita lihat di tayangan televisi atau melalui poster dan gambar atau hanya dapat kita bayangkan tetapi tokoh ini berbeda. Tokoh yang dapat kita rasakan secara langsung keberadaan dan kehadirannya. Ya, itulah guruku dan saya tidak segan-segan untuk menyebutnya sebagai “guruku idolaku”.

Posted in PENDIDIKAN | Dengan kaitkata: | 2 Comments »